Selasa, 27 Oktober 2015

mempersiapkan generasi bahari, melalui pendidikan kebaharian, ilmu kebaharian


 MEMPERSIAPKAN GENERASI MASA DEPAN
melalui Pendidikan Kebaharian

Oleh:
Dudi Akasyah, MSi.
Guru SMK Pelayaran Jakarta Raya

Untuk mewujudkan generasi yang kompetitif dalam dunia bahari maka diperlukan suatu proses. Adapun proses yang sangat menentukan nasib masa generasi adalah pendekatan pendidikan. Melalui pendidikan maka mempersiapkan generasi yang konsen dengan kelautan menjadi lebih realistis dan lebih kokoh di masa yang akan datang. Dalam hal ini, Yayasan Hang Tuah konsisten dalam menanamkan nilai-nilai bahari kepada anak didik, generasi muda bangsa. Kita perlu mengapresiasi sebagai kontribusi yang sangat berharga di dalam mendidik dan mempersiapkan generasi muda bahari yang berkualitas di masa yang akan datang.
Pendekatan Pendidikan
Pengenalan melalui pendidikan memiliki keuntungan dalam perspektif berkesinambungan (kontinyuitas), kurikulum, dan mewujudkan generasi masa depan yang berwawasan bahari. Perlu berbagai pendekatan untuk memperkenalkan bahari kepada sekitar 250 juta penduduk Indonesia. Sudut pandang perlu diperbaiki bahwa laut Indonesia terbuka untuk diberdayakan oleh seluruh bangsa Indonesia.
Ironi jika kekayaan laut yang berlimpah, baik secara demografis maupun sumber daya laut itu sendiri di satu sisi, namun amat miskin kratifitas penduduk di dalam mengeksplore kekayaan laut.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir terjadi rata-rata pencurian ikan di laut Indonesia oleh nelayan asing yaitu 30 trilyun setiap tahunnya. Di samping itu, secara kuantitas dan kualitas nelayan berbendera asing mengalahkan nelayan Indonesia. Jumlah nelayan berbendera asing mencapai angka fantastik yaitu di atas 90 persen dibandingkan dengan nelayan Indonesia. Diperparah lagi dengan kondisi nelayan Indonesia yang masih mengandalkan perahu-perahu kecil yang perolehan ikannya sedikit.
Kekayaan laut amat luas menjadi lahan rakyat Indonesia di dalam menumbuhkan kreatifitas, produktifitas, dan profesionalitas.
Makna menggali kekayaan laut bukan berarti mengekspolitasi (mengeruk keuntungan secara membabi-buta) namun lebih bersifat "mengambil manfaat" sembari tetap menjaga dan melestarikan lautan nusantara. Permasalahannya kini, yang mengeksploitasi adalah perusahaan asing dan nelayan asing, penduduk pesisir yang terkena polusinya.
Idealnya, mensosialisasikan bahari adalah merupakan tanggung jawab setiap individu sehingga semuanya berjalan bersama guna mewujudkan kejayaan bahari nusantara.
Jiwa kebaharian pelajar sebenarnya sudah ada, faktanya hampir setiap wisata atau study tour sekolah objek tujuannya adalah ke pantai-pantai. Hal ini menunjukan bahwa jiwa bahari sebenarnya sudah ada, namun tidak ditindak-lanjuti dengan penggalian lebih lanjut mengenai kelautan Indonesia.
Melalui pendidikan kebaharian secara berkelanjutan, dalam perjalanannya akan tercipta iklim ilmiah yang dinamis dan visioner, yang meliputi: pertama, mengindentifikasi peluang-peluang usaha di sektor kelautan. Kedua, mengembangkan usaha. Ketiga, pengembangan sumber daya manusia di bidang bahari. Keempat, pengembangan keilmuan, kajian ilmiah, studi banding, dan penelitian dalam bidang bersangkutan.
Peranan Guru Kebaharian
Peranan Guru Kebaharian sebagai agent intellectual atau agent of change, di dalam mengejewantahkan nilai-nilai kelautan sehingga terwujud chemistri antara individu dengan jiwa kelautan. Selama ini, dunia kelautan dengan jiwa bangsa sepertinya belum optimal di dalam menjiwai, memiliki, menghayati, terlebih lagi penguasaan dalam hal praktis, apalagi kelautan dalam tataran teoretis.
Keterampilan Siswa, Industri Kreatif
Industri kreatif merupakan salah satu cara yang relatif lebih mudah dan murah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahari. Di sekolah-sekolah biasanya rutin dilaksanakan beraneka ragam keterampilan, adalah perlu jika dalam ilmu kebaharian ditampilkan karya-karya atau keterampilam yang menjadikan potensi kelautan sebagai objeknya. Industri kreatif merupakan wahana bagi anak didik menuangkan imajinasinya sehingga dapat membuat berbagai kalangan melirik potensi kelautan di masa yang akan datang, baik potensi kelautan yang ditangani secara kelembagaan maupun perseorangan.
Pengenalan Kebaharian dapat diperkenalkan kepada sekolah umum
Sekolah umum sebenarnya tidak menutup pintu dari wawasan kelautan dimana SMK Pelayaran dapat menjadi pelopornya. Salah-satunya ditunjukkan bahwa banyak sekolah yang mengadakan wisata alam ke pantai-pantai, hal ini menunjukkan bahwa telah ada semangat kebaharian dan bangga atas keindahan lautan Indonesia. Namun sayang, sekarang hanya sebatas acara wisata yang spontanitas tanpa ada kontinyitas.
Di Indonesia, terdapat beberapa titik pantai yang banyak dikunjungi, hal ini dapat menjadi sentra promosi, publikasi, dan bimbingan untuk menstimulasi dan mengedukasi bangsa untuk menyuburkan wawasan kebaharian.
Promosi Kelautan
Laut Indonesia tak ada yang menyangsikan lagi sebagai laut yang sangat indah dengan sejuta pesona. Terhampar luas dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, tak ubahnya seperti lautan permata yang menyilaukan dunia. Namun, apabila tidak disertai dengan promosi-promosi maka laut Indonesia tak ubahnya seperti kolam kecil yang sulit dan mahal untuk dikunjungi.
Promosi dapat berupa yang umum dilaksanakan, seperti brosur, maupun cerita dari mulut ke mulut, ataupun bagusnya fasilitas bahari sehingga menggoda orang untuk kembali ke dunia kelautan.
Hal terpenting dari mewujudkan kesadaran adalah mindset, kemudian didukung oleh stimulus, fasilitas, minat, dan bimbingan yang terus menerus. Sebenarnya ketika minat sudah muncul maka akan menumbuhkan kesadaran kolektif dengan lembaga dan individu yang semakin massif.
Pengenalan bahari dapat dilakukan melalui pendekatan hightech dan tradisional, hal ini berguna bagi para profesional maupun yang baru mengenal kelautan.
Samudera Indonesia terhampar luas menunggu tangan-tangan kreatif putra nusantara
Sudah cukup lama samudera nusantara tidak bergema semenjak kejayaan majapahit dan sriwijaya. Bukanlah berkurangnya wilayah laut, namun berkurangnya sumber daya manusia yang berwawasan kelautan. Hal ini akibat kurangnya pendidikan bagi generasi muda di dalam pengkajian kelautan. Telah terjadi generasi yang terputus semenjak era Sriwijaya, kemudian sekarang kita akan menumbuhkan kembali semangat bahari guna mengembalikan  kejayaan di masa silam.
Paradigma yang harus dibenahi: High Tech dan Kemampuan Rumit
Terdapat pemikiran bahwa keengganan mengenal kelautan disebabkan karena membutuhkan biaya besar, teknologi tinggi, dan kemampuan rumit, seperti harus pintar berenang, ahli menyelam, dan sejenisnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu metodologis, teknik penyampaian atau komunikasi sehingga image tentang bahari dari semula rumit menjadi ringan dan menstimulus sebagai kegiatan yang murah, mudah, menarik, menyenangkan, dan menjamin masa depan. Semuanya bermula dari menumbuhkan minat, pembentukan mindset, sebab jika nanti sudah menyenangkan maka berapa pun dananya atau tantangannya bukanlah sebagai permasalahan serius.
Menyikapi Pasar Bebas
Bangsa ini harus mewaspadai pasar bebas yang akan bergerak ke berbagai lini. Kita harus berupaya bagaimana kekayaan laut dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bangsa, yakni tidak dijadikan komoditi asing yang membuat bangsa seperti tamu di tanahnya sendiri. Potensi kelautan yang berlimpah apabila tidak mampu dikelola akan membuat bumerang sebab hal itu membuka peluang pihak asing untuk menguasainya, di sisi lain masyarakat hanya bersikap pragmatis (menjadi kuli di lautnya sendiri). Tentu, hal itu tidak boleh terjadi. Dengan harapan pemerintah dapat menaruh perhatian serius bagi tumbuhnya kesadaran bahari dan pemberdayaan bahari sehingga menjadi karunia dan kekuatan sosial ekonomi bangsa Indonesia.
Sinergi dengan Perusahaan
Selain dukungan dari pemerintah, maka diperlukan juga dukungan dari perusahaan baik yang berkaitan dengan kelautan maupun yang menaruh minat atau yang ikut bertanggung-jawab terhadap nasib penerus generasi bahari, yaitu untuk ikut ambil bagian dalam memfasilitasi bagi lahirnya generasi bahari di masa yang akan datang. Perusahaan dapat menjadi sponsorship guna menstimulus kegiatan kebaharian.
Suatu Kontemplasi
Jika kita melihat ada beberapa negara yang tidak memiliki garis pantai. Tentu, mereka akan mengatakan jika saja memiliki laut maka negara itu akan makmur sebab laut merupakan kekayaan negara yang tak terhingga. Ada juga negara yang garis pantainya sedikit namun mereka dapat memaksimalkannya sehingga laut memberikan benefit bagi bangsa.
Berdasarkan kontemplasi di atas maka bagaimana dengan Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia? Adalah sebuah ironi jika bangsa ini tidak dapat mengambil manfaat dari berlimpahnya kekayaan lautan Indonesia.
Terdapat banyak negara yang mampu memaksimalkan sumber daya laut, misalnya Inggris dan Jepang. Apabila Indonesia mampu memperbaiki paradigma dan kemudian mengambil langkah yang fokus terhadap dunia bahari maka Indonesia akan menjelma menjadi negara maju hal ini tidak terlepas dari sumber daya laut yang merupakan terbesar sedunia. Christopher Eve, Senior Vice President of UBM Asia Ltd, menyatakan bahwa Inggris dan Jepang merupakan negara yang berhasil dalam pemanfaatan laut, jika Indonesia mengikutinya maka Indonesia akan menjadi negara maritim yang berpotensi tinggi menjadi pasar sempurna untuk bisnis usaha di bidang kebaharian.
Kelautan Indonesia, tidak hanya representatif untuk perdagangan dunia, namun juga sangat kondusif untuk perdagangan domestik, mengingat negara Indonesia merupakan negara kepulauan. Peluang kapal tidak hanya dipergunakan untuk mengangkut makanan, melainkan sarana transportasi material dan transportasi manusia. Ia mengatakan bahwa di Indonesia laut prospektif merupakan jalan raya.
Namun semua itu sangat membutuhkan sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan. Berdasarkan survey UNDP tahun 2011 yang dilakukan terhadap 187 negara dunia menunjukan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Indonesia hanya menempati urutan 124. Indonesia perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Perlu perbaikan sumber daya manusia, agar anugerah laut Indonesia dapat menjadi karunia untuk bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, pendidikan berbasis bahari merupakan keniscayaan di dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju yang disegani dunia.
Dalam hal ini, kita perlu memberikan apresiasi kepada Yayasan Hang Tuah yang telah dan akan terus menerus memperjuangkan dan mengaplikasikan nilai-nilai bahari melalui pendidikan bagi seluruh anak didik, khususnya di lingkungan satuan pendidikan Hang Tuah, dan umumnya generasi muda bahari Indonesia, guna mempersiapkan dan mewujudkan generasi bahari yang unggul di masa yang akan datang.

Jakarta, 23 Oktober 2014


Penulis:
Dudi Akasyah
Guru SMK Pelayaran Jakarta Raya
HP 085-222-777-235
Alamat Rumah:
Vila Gading Indah Blok A2 no.8, Jl. Boulevard Gading Raya, Kelapa Gading Barat 










Sabtu, 19 April 2014

Kelurahan Kelapa Gading Barat, Membangun Masyarakat agar Lebih Optimal


MEMBANGUN MASYARAKAT
DI KELURAHAN KELAPA GADING BARAT
Oleh: Dudi Akasyah, MSi.
Tinggal di Vila Gading Indah


Potensi dan Problema
Kita berada di lingkungan Kelurahan Kelapa Gading Barat yang melingkupi 21 RW, masyarakatnya berasal dari berbagai kalangan, profesi, dan status sosial. Bangunan yang dihuni terdiri dari perumahan elit, apartemen, rukan, komplek perumahan, dan rumah sederhana.
Meskipun tampaknya anggota masyarakat berserak namun pada saat-saat tertentu mereka membutuhkan solidaritas, kebersamaan, dan membangun persaudaraan.
Keseimbangan, itulah yang dibutuhkan. Ada saatnya sibuk mengurus kepentingan pribadi, ada saatnya peduli terhadap kepentingan masyarakat sekitar.
Yang muncul sekarang ini adalah kesibukan mengurus pribadi sehingga memunculkan kesan individualistik. Adapun dari sisi mengurus kepentingan masyarakat masih belum terwujud. Alasannya dapat berupa kesibukan, saling mengandalkan antar satu dengan yang lain, ataupun tidak adanya kepentingan untuk hal tersebut. Hal tersebut berakibat terhadap minimnya kegiatan kemaslahatan masyarakat sekitar yang dipelopori oleh anggota masyarakat yang bersangkutan.
Di sisi lain, aparat pemerintahan lebih disibukkan dengan mengurus hal-hal yang bersifat administratif semata sehingga program pemberdayaan warga seringkali luput dari perhatian. Hal-hal yang demikian, sepatutnya untuk dicermati agar perkembangan masyarakat menjadi semakin dinamis, masyarakat memiliki kebanggaan terhadap nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian antar satu individu dengan individu yang lainnya. Percayalah, apabila kebersamaan antar komponen masyarakat tercapai maka hasil positif akan berlimpah.
Masyarakat merupakan investasi manakala diberdayakan dengan optimal. Lagi-lagi kita membutuhkan tekad yang kuat (political will) untuk melakukan perbaikan. Paling tidak, bermula dari merintis, mempertahankan, dan terus menerus memberi kontribusi.
Rasanya tidak lengkap kalau di lingkungan kita tidak ada kegiatan yang bermanfaat. Setiap individu ketika berkumpul maka akan memunculkan berbagai kesempatan untuk berinteraksi, silaturahmi, dan menjalin kerjasama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Sebagai makhluk sosial maka selalu muncul keinginan untuk saling mengenal, menjalin persaudaraan, dan mewujudkan berbagai kebaikan besar yang ditopang oleh potensi insani.
Rutinitas yang muncul dari motif mencukupi kebutuhan pribadi merupakan hal yang sah-sah saja sebab waktu dipergunakan agar bagaimana individu dapat mempertahankan hidup. Namun, di sisi lain menyisihkan waktu, pikiran, atau potensi untuk kebaikan masyarakat merupakan hal yang perlu dilakukan agar optimalisasi fitrah sebagai makhluk sosial dapat tercapai. Dalam arti, keterikatan sosial, munculnya solidaritas, kebersamaan dalam mewujudkan kekuatan; dapat kita capai melalui kepedulian terhadap tetangga atau masyarakat yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Berbicara kontribusi masyarakat adalah berbicara untuk jangka panjang, membutuhkan kontinuitas dalam menata dan membangun kesadaran, serta dorongan internal yang terus menerus dari para pelopor, yakni individu yang mempunyai keinginan sebagai kontributor.
Dimaklumi bahwa masyarakat kota identik dengan individualistik, waktu full time dengan alasan profesionalisme, tugas-tugas kemasyarakatan cukup dengan rekrutmen security, dan mencukupkan diri dengan memposisikan sebagai konseptor belaka tanpa mampu membumikan konsep tersebut dalam aplikasi nyata terhadap masyarakat terdekat.
Kita khan masyarakat kota bukan desa? Demikian alasan yang sering dikemukakan. Padahal, jika alasannya demikian, orang desa pun akan mengatakan hal yang sama: kami tidak bisa, karena kami masyarakat desa bukan kota. Di kota hal itu bisa, tetapi di desa tidak mungkin terwujud.” Lalu sampai kapan akan muncul kesadaran: “Ini tanggung jawab kami, maka kami harus bergerak mulai saat ini.”
Hal ini merupakan catatan tentang diri kita, bagaimana memulai untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat. Jangan berharap di tempat lain dapat memberi manfaat, jikalau kita belum memulainya sekarang. Kehidupan bermasyarakat merupakan pengalaman yang kemudian memunculkan pengetahuan yang sangat berguna dan applicable.
Namun, di sisi lain individu harus memiliki pengalaman dalam bermasyarakat. Mengapa individu harus memulai bermasyarakat dari semenjak dini? Sebab untuk menggali pengalaman terlebih dahulu. Seseorang yang baru terjun ke masyarakat maka ia akan kikuk dan gugup jika menghadapi kisruh atau riak-riak di masyarakat. Berbeda jika ia telah memiliki pengalaman maka ia telah mumpuni di dalam memberi manfaat untuk orang banyak.
Tumbuhnya teknologi acap kali memberikan situasi instan dimana seseorang dapat eksis di depan meja, di hadapan internet, atau media sejenisnya. Di satu sisi hal itu dapat diterima, namun di sisi lain ilmu rekayasa tersebut belumlah cukup untuk melengkapi keutuhan manusia. Pertemuan fisik, mewujudkan silaturahmi, saling memberi manfaat dan mewujudkan solidaritas, merupakan hal utama yang mengutuhkan diri sebagai manusia.
Penulis kira permasalahan yang dihadapi merupakan permasalahan umum yang seringkali dijumpai di masyarakat manapun juga. Namun, jangan pula pesimistik sebab jika problema terus ditelisik disertai dengan keuletan maka problem tersebut akan mampu ditemukan solusinya, serta yang jauh lebih penting adalah pelaksanaan dari solusi tersebut di lapangan sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Catatan ini hanya sebatas kontemplasi, perenungan. Besar harapan, bermula dari perenungan ini, kita memperoleh pendorong untuk melakukan aksi.
Agent of Social Change
Kita memerlukan individu-individu sebagai agent of social change (agen sosial) yang memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat ke arah yang lebih baik.
Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dimulai dari kesadaran diri kita, konsistensi, kontinyuitas, serta dukungan dari berbagai pihak; dari masyarakat, pemerintahan, tokoh masyarakat, dan seluruh komponen yang berada di lingkungan Kelapa Gading Barat.
Medio, Nopember 2011

Selasa, 15 April 2014

cuyot, incu ma oyot, halal bi halal, babakan wanahayu, sukamurni, desa wanahayu, maja, majalengka

HALAL BI HALAL CUYOT

Acara yang ditunggu-tunggu oleh sebuah keluarga besar adalah acara di saat kita dapat bertemu dengan saudara-saudara. Moment halal bi halal merupakan saat yang ditunggu. semoga berkah.
Halal bi Halal Incu Ma Oyot, Amin Apretum
Sangat senang saat acara halal bi halal Cuyot sebab kami dapat bertemu dengan saudara-saudara dari keluarga besar (Al-Ahli) Amin bin Iskat bin Ishak.
Saat ziarah ke makam Desa Wanahayu, doa khusyu untuk almarhum dan almarhumah dipanjatkan, dilanjutkan dengan bertemu  sanak saudara. Berkumpul di Babakan Wanahayu dan bergantian dengan berkumpul di Sukamurni, Maja.
Satu tahun tak terasa, dapat bertemu dengan keluarga besar, suasananya cerah, meriah, ramah, dan berkah. Sekarang Incu Ma Oyot sudah banyak yang berkeluarga. Saya dan isteri sudah punya dua anak, ngabring menghadiri halal bi halal. Kemudian disambut oleh saudara yang telah hadir. Ngobrol ngaler ngidul, sungguh sangat berkesan. Idul Fithri, Iedul Mabarok. Tanpa terasa hari sudah sore, kami pun pamit, sebab mempersiapkan esok hari untuk silaturahmi ke keluarga di desa yang lain. Semoga kita dapat berkumpul kembali, semoga Allah melindungi kita dengan rahmat-Nya, Amin Ya Robb.
Amin Apretum bin Iskat bin Ishak, Abah Amin mempunyai 4 anak, yaitu Mama H Ihsan Fauzan, Bi Icih, Mang H. Sirojudin Abbas, dan Bi Eti.

Halal Bi Halal Keluarga Besar Cuyot (Abah Amin Apretum) dilaksanakan di :
- Babakan Wanahayu, Blok Minggu, Desa Wanahayu, Kec. Maja.
- Sukamurni, Maja Selatan, Maja

Setiap tanggal 7 Syawal 




MAMA K.H IHSAN FAUZAN
- Enok
- Dedeh
- Cecep
- Deden
- Ai
- Dea
- Ayip
- Lilim
- Yayang
BIBI ICIH
- Ohim
- Ijah
- Ajid
- Nanang
- Enok
MAMANG H SIROJUDIN
- Andi
- Deni
- Ina
- Egi
- Defah
BIBI Eti
- Mira
- Ima

HALAL BI HALAL
SETIAP TANGGAL 
7 SYAWAL
teu kenging hilap nya...

Islam Cemerlang, Rusun Pinus Elok

Islam Cemerlang Rusun Pinus Elok
by Dudi Akasyah

Kami menerima kunjungan dari Mr Riz dan Ms Indri dari Australia. Keduanya memberikan pelatihan Bahasa Inggris, Olahraga, dan materi yang lainnya. Anak-anak antusias mengikuti acara tersebut. bagi mereka sangat jarang menerima kunjungan dan kebersamaan dengan guru dari luar negeri. Kami juga dari para pengajar sangat senang dan terinspirasi untuk selalu berbagi dan menjalin silaturahmi dengan anak didik dimana pun berada.
Di penghujung kegiatan keduanya memberikan bantuan sebesar 1.000 dollar berupa sembako yang dibagikan kepada 100 anak tak mampu.
Kita juga salut dengan Mr Riz dan Ms Indri yang meski masih muda namun telah menaruh kepedulian. kita doakan semoga mereka dapat meraih sukses dunia dan akhirat, amin.
Kami juga ucapkan kepada para pengurus Islam Cemerlang, Comdev BEM UNJ, Ibu Majlis Taklim yang telah menyukseskan acara tersebut, semoga berkah.







keuntungan metode diskusi saat mengajar pelajar SLTA


KEUNTUNGAN METODE DISKUSI
Metode Diskusi bagi Murid SMA

Dudi Akasyah, MSi.

Definisi
Metode diskusi adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang diterapkan guru kepada siswa untuk membentuk beberapa grup siswa dimana antara satu grup dengan grup lainnya saling menyampaikan suatu materi, dibahas, tanya-jawab, dan pengambilan keputusan.
Uraian
Diskusi dapat dilakukan dari guru kepada murid, dapat pula dilakukan antar murid untuk memahami suatu pelajaran. Melalui diskusi murid dapat lebih enjoy di dalam memahami suatu pelajaran. Sebagai perbandingan dengan metode ceramah, metode ceramah di satu sisi mempunyai keunggulan, namun di sisi lain metode ceramah sering memforsir guru, baik energi maupun pemikiran, padahal perjuangan tersebut belum tentu dapat dipahami oleh murid. Tugas guru hanya meng-inisiasi acara diskusi, menyiapkan bahan, memandu, dan mengarahkan.
Terdapat beberapa hal positif yang akan diterima oleh murid melalui metode diskusi:
Membaca
Melalui diskusi murid bersungguh-sungguh di dalam membaca buku pelajaran, yang lainnya menyimak. Hal ini berbeda jika guru yang terus menerus menerangkan maka biasanya murid kurang menyimak. Melalui diskusi, murid akan membaca dengan seksama setiap materi pelajaran. Mungkin ada suatu motif dari mereka bahwa : Boleh jadi kalimat yang pelik itu akan ditanyakan oleh teman diskusinya. Di sisi lain, peserta diskusi akan teliti di dalam menyimak sehingga mereka dapat bertanya atau tampil bagus dalam diskusi tersebut.
Tanggung-jawab
Dalam diskusi, teman satu grup diskusi akan memiliki tanggung-jawab untuk mempelajari suatu mata pelajaran. Sebab jika semua anggota/tim dalam diskusi tidak siap dengan materi pembahasan maka kelompoknya akan dilanda kesulitan di saat menjawab berbagai pertanyaan dari kelompok lain. Oleh sebab itu maka muncul tanggung-jawab dari masing-masing individu untuk memahami pelajaran tersebut.
Murid Aktif, Kreatif, dan Prokduktif dalam Berpikir
Murid akan aktif untuk bertanya dan berjuang keras memperoleh jawaban dari pertanyaan tersebut. Waktu beberapa jam tak terasa, semua murid berpartisipasi di dalam diskusi. Merupakan suatu kebanggaan apabila ia dapat berpartisipasi di dalam diskusi.
Bekal Masa Depan Murid
Diskusi merupakan seni menyampaikan pendapat, menerima usulan, memperoleh jalan keluar, dan menetapkan suatu keputusan. Belajar diskusi dapat menghilangkan nervous, belajar menyampaikan pendapat. Pembelajaran diskusi merupakan persiapan murid sebelum mereka terjun ke masyarakat, yang mana untuk mengurusi masalah di masyarakat diperlukan musyawarah, adapun musyawarah merupakan bentuk formal dari diskusi.
Memperhalus bahasa
Dalam keseharian seringkali siswa berkata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan. Berbicara asal-asalan tanpa peduli apa akibatnya. Melalui diskusi, siswa diajak untuk belajar mengontrol pembicaraan. Melalui diskusi, siswa belajar untuk diplomatis, berpikir, berkomunikasi secara baik, persuasif, berpendapat, dan belajar mengambil keputusan.
Public Speaking
Belajar melalui diskusi merupakan pembelajaran agar murid kelak dapat memiliki kemampuan sebagai public speaking. Murid dilatih untuk belajar berbicara, berpidato, sambutan, ataupun pembicaraan formal lainnya. Melalui diskusi, pelajaran dibahas secara lebih antusias, lebih hidup, dan lebih meringankan. Tanpa metode yang tepat maka pelajaran yang berat akan terasa makin berat, sebaliknya seberat apapun pelajaran jika memakai metode yang tepat maka akan terasa mudah untuk memahaminya.
Penutup
Metode diskusi merupakan salah-satu cara transfer ilmu dari guru kepada murid. Melalui diskusi, murid lebih aktif di dalam menggali ilmu, dan melatih kerjasama, serta melatih mental, pemikiran, dan melatih cara menyampaikan ide atau gagasan.

Jakarta, 19 Feb 2014